Muncul Ransomware Android yang Mampu Bajak Tombol Home di Smartphone

Reporter : Yoyok
Selasa, 13 Oktober 2020 15:50
Muncul Ransomware Android yang Mampu Bajak Tombol Home di Smartphone
Wah, jadi gak bisa kemana-mana tuh

Bagi kalian pengguna smartphone Android, sebaiknya lebih berhati-hati lagi dalam menggunakan handphone. Bantuk-bentuk ransomware kini semakin masif beredar di masyarakat.

Baru-baru ini ditemukan sebuah ransomware jenis baru yang dapat menyalahgunakan fitur notifikasi incoming call atau panggilan masuk. Tidak hanya itu, ransomware tersebut mampu mengunci tombol Home sehingga smartphone tidak dapat digunakan.

Ransomware tersebut bernama AndroidOS/MalLocker.B, ransomware jenis ini dapat kamu dapatkan lewat aplikasi Android yang kamu download lewat forum online dan situs web pihak ketiga.

1 dari 5 halaman

Ransomware MalLocker.B

Ransomware MalLocker.B ini sebenarnya tidak benar-benar mengenkripsi file korbannya. Ransomware ini hanya mencegah korbannya untuk mengakses menu smartphone lainnya.

Setelah masuk, ransomware tersebut akan mengambil alih layar ponsel serta mencegah pengguna menutup catatan meminta tebusan.

Ilustrasi HackerIlustrasi Hacker © unsplash.com/Nahel Abdul Hadi

2 dari 5 halaman

Petugas Penegak Hukum

Para hacker melancarkan aksi penipuan ini dengan cara berpura-pura sebagai petugas penegak hukum. Catatan yang tidak bisa ditutup itu merupakan aksi tipu-tipu dari para hacker yang menyamar menjadi penegak hukum.

Catatan tersebut akan menuliskan bahwa korban telah melakukan kejahatan dan harus membayar dengan dengan sejumlah uang tertentu.

" Varian ransomware mobile baru ini merupakan temuan penting, karena malware tersebut menunjukkan perilaku yang belum pernah terlihat sebelumnya,” jelas tim riset dan keamanan Microsoft di dalam blog perusahaan.

3 dari 5 halaman

Sudah Lama

Dan ransomware yang menyamar sebagai denda palsu dari petugas kepolisian ini bukanlah hal baru. Ransomware seperti ini telah ada sejaka satu dekade lalu.

Samkin lama, ransomware ini dapat menyalahgunakan beragam fitur dengan fungsi sistem operasi Android agar korbannya terkunci di laman utama mereka.

Sebelumnya, pelaku kejahatan juga mengeksploitasi fitur System Alert atau menonaktifkan fungsi agar dapat berinteraksi dengan tombol ponsel.

4 dari 5 halaman

240 Aplikasi

Peneliti keamanan bernama White Ops mengatakan ada 240 aplikasi Android yang menampilkan out-of-context ads. Out-of-context ads adalah iklan yang muncul di luar aplikasi saat pengguna smartphonetidak membuka sebuah aplikasi.

Iklan seperti ini dapat muncul secara pop-up bahkan dapat full screen.

Ilustrasi SmartphoneIlustrasi Smartphone © unsplash.com/Selwyn van Haaren

Beri Komentar