© Shutterstock.com/g/stlee000
Cinta memang erat kaitannya dengan kebahagiaan, perhatian, kasih sayang, keluarga, hingga pada sesuatu yang mungkin kita inginkan dalam menjalin hubungan. Tapi, tak sedikit orang yang mengartikan perasaan cinta sebagai wujud kesedihan dan rasa sakit yang mendalam.
Bahkan, tanpa disadari atau pun tidak mereka hanya sebatas mencari cinta dengan pasangan dengan mendapatkan penderitaan dan kesedihan. Walau, ini belum tentu semua orang mengalaminya, namun di masa dewasa sering muncul cinta dengan pasangan berujung dengan kepedihan.
Lho, kok bisa gitu ya?
Coba deh ingat-inagt lagi. Barang kali semuanya bermula dari masa kecil. Di masa kanak-kanak, para generasi ini selain tak hanya membutuhkan fisik saja, tapi juga kehangatan dari orang yang mengasuhnya sehingga kebutuhan emosi jadi terpenuhi.
Dengan demikian, secara langsung anak akan tahu pasti bagaimana ia merasakan cinta tanpa syarat yang terpancar dari orang-orang terdekatnya. Yap, bener banget! Seorang anak akan mampu mencintai diri sendiri dan mengembangkan hubungan yang jauh lebih kuat dan sehat dengan orang disekelilingnya.
Anak bermain dengan orang tuanya © news.yale.edu
Namun sebaliknya, seorang anak yang kesehariannya dibesarkan tanpa dukungan emosional dari orang terdekatnya akan mengembangkan perasaan diri yang lemah dan tak stabil. Hal ini pun akan berakibat pada anak yang kesulitan untuk mencintai diri sendiri, sulit memercayai orang lain hingga berujung pada kesulitan untuk mencapai kepuasan rasa kala menjalin hubungan nanti di masa dewasa.
" Haduh, ada-ada saja deh. Memangnya anak tau apa soal cinta?"
Jangan salah Guys, dari banyaknya hal yang bisa disebut menyimang tadi, anak jadinya tak tahu secara real seperti apa bentuk dan rasa cinta yang sehat. Eits, ingat lagi! Cinta yang dimaksud adalah cinta dari orang terdekat seperi orangtua dan saudara ya. Anak hanya sekedar tahu bahwa cinta yang didapatkan dari pengasuhnya terasa menyakitkan, dan membuatnya takut, sedih, atau marah.
Alhasil, konsep itu tertanam dalam diri anak hingga dewasa. Saat anak sudah merasa biasa menghadapi kekacauan tersebut, maka menghadapi hubungan yang stabil dan dekat di masa dewasa akan jadi terasa asing bahkan sulit untuk dirinya beradaptasi.
ilustrasi anak sedih © Shutterstock.com
Waw, apakah separah itu?
Secara mendetail, ia akan terus mengembangkan penyesalan masalah yang tidak adaptif dan parahnya ia akan merasa mengurangi kejadian tempo dulu di hubungan romantisnya kala telah dewasa. Terlebih, bisa jadi ini akan menjadi sebuah siklus lantaran ia akan merasa lebih familiar dengan perilaku menyakitkan ketimbang ekspresi cinta yang sehat.
Masa kanak-kanak yang polos dan kalem memang tidak dapat diubah. Namun, Diazens masih tetap memiliki kesempatan untuk mengubah diri kita di masa sekarang. Jadi, jika Diazens merasa ada cinta yang terampas di masa kecil, maka sadari bahwa cinta bukanlah penderitaan.
Selalu ingat bahwa kita membuthkan cinta dan pemikiran bahwa kamu tak harus hidup seperti ini sebagai langkah pertama. Kita sangatlah berhak untuk mencintai dan dicintai dengan lebih baik. Semoga kita semua selalu dipenuh dengan kehidupan penuh cinta yang sehat ya. Semangat!
Pengen Body Goals Kayak Zhao Lusi? Ini Rahasia Diet 'Ratu Drama' yang Sukses Turun 16 Kg!
Pengen Body Goals Kayak Zhao Lusi? Ini Rahasia Diet 'Ratu Drama' yang Sukses Turun 16 Kg!
Pigmenta Nusantara, UIFW Hadirkan Dialog Tradisi dan Keberlanjutan Lewat Trunk Show Eksklusif
Bukan Sekadar Main-Main, Ini Panduan Santai Mengenal Fase Motorik Anak dan Cara Melatihnya

Pigmenta Nusantara, UIFW Hadirkan Dialog Tradisi dan Keberlanjutan Lewat Trunk Show Eksklusif

Sah! Brisia Jodie dan Jonathan Alden Mengikat Janji di Katedral

Resmi Jadi Ibu, Vior Melahirkan Putri Pertama dengan Nama Cantik, Wajah Baby V Bikin Penasaran

Akhirnya Sah! Dara Arafah dan Rehan Mubarak Resmi Menikah di Tanah Suci

Amanda Manopo Umumkan Hamil Anak Pertama, Sara Wijayanto Siap Jadi 'Buyang'