Kisah Pilu Aisyah, Bocah Kelas 4 SD yang Sudah Harus Hidup Sebatang Kara

Reporter : M. A. Adam Ramadhan
Jumat, 22 Januari 2021 12:27
Kisah Pilu Aisyah, Bocah Kelas 4 SD yang Sudah Harus Hidup Sebatang Kara
Ayahnya meninggal, ibunya juga meninggal.

Nasib dan takdir setiap orang memang bisa berbeda-beda. Ada yang hidup bersama orangtuanya sampai mereka tua. Namun, ada juga seseorang yang harus kehilangan kedua orangtuanya sejak mereka kecil.

Ternyata, kisah pilu tersebut juga terjadi kepada Aisyah Alusa, bocah keluarahan Benda Baru, Pamulang, Kota Tangerang Selatan yang sudah harus hidup sebatang kara. Padahal, ia baru berusia 10 tahun, kelas 4 SD.

 

1 dari 5 halaman

Melansir dari Liputan6.com, ketika Aisyah masih berusia 2 tahun, ia sudah harus kehilangan Ayahnya. Selama delapan tahun belakangan, Aisyah pun hidup bersama ibunya saja.

" Ayahnya sudah terlebih dulu meninggal saat Aisyah masih usia 2 tahun," Marliansyah A. Baset, Ketua RW 18 Benda Baru.

Namun, baru-baru ini Aisyah harus kehilangan sosok satu-satunya yang cintai itu, yaitu ibunya, Rina. Awalnya ibu Aisyah mengeluh batuk, demam dan pusing. Ia pun kemudian diantar oleh beberapa warga sekitar untuk berobat ke Puskesmas.

2 dari 5 halaman

Kemudian, di Puskesmas Rina di-rapid, dan hasilnya reaktif. Kemudian Rina pun melakukan Swab PCR di rumah sakit rujukan dan hasilnya pun positif juga.

" Hasilnya positif Covid-19, akhirnya dikasih pilihan, mau dirawat di rumah sakit rujukan Covid-19 atau isolasi mandiri. Akhirnya, karena kepikiran Aisyah sendirian di rumah, almarhumah memutuskan untuk isolasi mandiri di rumah," tutur Baset.

Di rumah, Rina pun dirawat oleh Aisyah tentu saja. Setiap jam makan, anaknyalah yang mengawasi dan memberikan makan. Hingga pada Sabtu sore pukul 17.30 WIB, Rina sedang tertidur dan Aisyah pun mencoba untukk membangunkan ibunya untuk bersiap-siap salat Magrib.

 

3 dari 5 halaman

Namun, naas, ibunya tak kunjung bangun, sekeras apapun Aisyah mengguncang-guncangkan tubuhnya. Aisyah pun menangis dengan keras, hingga akhirnya warga sekitar mendengarnya dan menghampiri rumahnya. Namun, warga hanya berkumpul di depan rumah Aisyah karena tahu ibunya itu terpapar Covid-19.

" Kami juga serba salah, karena kami tahu almarhumah kena Covid-19. Akhirnya tidak boleh ada warga yang masuk, saya langsung hubungi kelurahan, puskesmas dan Polsek Pamulang," tutur Baset.

Pihak Puskesmas pun datang dengan APD lengkap, dan mengecek kebenaran meninggalnya Rina. Namun, pemakaman tak bisa dilakukan pada malam itu. Jadi, pemakanan akan dilakukan di esokan pagi harinya.

" Karena sudah maam, pemakaman tidak bisa dilakukan di malam hari. Petugas baru bsia datang keesokan harinya, dengan jaminan jam 06.00 pagi sudah datang."

 

4 dari 5 halaman

Hingga akhirnya, pada Minggu 17 Januari 2021, ibunya Aisyah, Rina, pun dimakamkan. Karena serumah dengna ibunya, Baset pun kemudian membawa Aisyah ke rumah sakit untuk melakukan swab test, dan hasilnya pun positif.

" Hari Minggu itu juga saya bawa Aisyah ke Siloam Hospital untuk swab test. Ternyata Aisyah juga terpapar Covid-19 dari ibunya. Dari sana langsung kordinasi dengan satgas dan Aisyah dirawat di Rumah Lawan Covid-19 di Tangsel," tutur Baset.

Kini, Aisyah hidup sebatang kara. Namun Baset dan warga sekitar akan memastikan Aisyah tak akan hidup dengan kekurangan. Mereka akan memenuhi segala kebutuhan Aisyah agar tetap semangat untuk hidup sehat.

" Kami pastikan Aisyah tidak kekurangan satu hal pun. Tiap hari kami kontrol, kami antarkan makanan enak dan sehat, biar dia tetap semangat untuk sehat."

 

Beri Komentar