Hikayat Nasi dan Telur Ceplok Sebagai Penyelamat Bangsa Indonesia dari Panic Buying

Reporter : Arif Mashudi
Minggu, 22 Maret 2020 18:39
Hikayat Nasi dan Telur Ceplok Sebagai Penyelamat Bangsa Indonesia dari Panic Buying
Makan nasi panas, telur ceplok, ditambah kecap udah bikin merem melek dan Indonesia aman

Beberapa wilayah di Indonesia sudah masuk dalam zona merah penyebaran covid-19. Dari situ juga banyak masyarakay yang khawatir akan keadaan dan akhirnya belanja dengan tidak wajar alias panic buying. Mungkin ini juga yang membuat Edward Suhadi membagikan hikayat nasi telur ceplok di akun twitternya.

Pada Rabu, 18 Maret 2020, Edward menuliskan cuitan panic buying bukan soal orang susah makan, tapi soal membuat suasana keruh yang berbuntut panjang kemana-mana. Padahal, makan nasi panas, telur ceplok, ditambah kecap udah bikin merem melek.

1 dari 4 halaman

Hingga artikel ini ditulis, cuitan tersebut sudah mendapat 28.600 retweets dan 34.300 likes, serta ribuan komentar dari warganet. Unggahannya sih sederhana, tapi pesan yang berada dalam unggahan tersebut yang membuat kita tenang karena kita, sebagai masyarakat Indonesia punya menu nasi telor ceplok yang bisa diandalkan di segala kondisi dan waktu.

Dalam cuitannya tersebut, ia membagiakn sebuah vidio yang bernarasi bahwa kita orang Indonesia nggak usah melakukan panic buying karena kita sudah punya nasi telur ceplok. Judul vidio tersebut adalah, " Alasan jangan panic-buying: selalu ada nasi telur ceplok" . Kuliner yang diperlihatkan dalam vidio tersebut adalah nasi, telur ceplok, dan sedikit siraman kecap manis.

2 dari 4 halaman

" Kita rata-rata butuh 1.500-2000 kalori per hari buat hidup. Menu nasi telur ceplok mengandung 500-an kalori. Jadi, kamu nggak perlu nyetok berlebihan," begitu keterangan yang ada dalam vidio tersebut.

Edward kemudian menjelaskan bahaya panic-buying di tengah pandemi corona COVID-19, yang bukan lain adalah hanya membuat harga barang naik dan stoknya malah kosong untuk mereka yang benar-benar membutuhkan. terutama petugas medis tang bertugas.

3 dari 4 halaman

Menurutnya, panic buying di kondisi penyebaran corona COVID-19 hanya akan menciptakan suasana panik dan mencekam. " Kita paling sehari makan berapa kali sih? Malah ndud lho," imbuhnya. Dengan tak panik membeli berbagai macam barang juga dikatakan jadi cara memberi waktu pada pemerintah untuk bekerja secara mandiri.

Namun, sebagai masyarakat yang bergotong-royong, kita nggak usah nunggu pemerintah untuk bertindak positif. Kita harus saling bantu serta saling jaga di lingkungan rumah dan tempat kerja. Juga, daripada uangnya dihabiskan untuk membeliberbagai barang secara berlebihan, lebih baik digunakan membantu sekitar.

Nah, jangan panik ya guys. Namun juga jangan meremehkan. Saling bantu dan saling jaga. Jangan lupa jaga kebersihan.

4 dari 4 halaman

 

Beri Komentar