Apakah Anak-anak Korban Broken Home Selalu Merasa Insecure?

Reporter : Kurnia
Selasa, 19 Oktober 2021 16:10
Apakah Anak-anak Korban Broken Home Selalu Merasa Insecure?
Beberapa anak justru bisa lebih menghargai pernikahan, namun ada banyak hal negative, termasuk masalah mental hingga kepercayaan diri

Berbicara soal broken home memang tampak sadis sekaligus mengerikan. Setiap orang pastinya membayangkan jika berumah tangga adalah sesuatu yang menyenangkan. Menikah, mempunyai anak, dan hidup bahagia selamanya. Namun semua kenyataan hidup tak semudah itu.

Banyak masalah yang tak pernah terduga ataupun terbayangkan sebelumnya hingga memaksa anggota keluarga untuk hidup sendiri-sendiri dan berpisah. Mengapa demikian, Moms mungkin pernah merasakannya.

1 dari 5 halaman

Dari berbagai masalah terkadang juga mengancam kehidupan yang membuat setiap anggota keluarga tertekan, seperti perpisahan kedua orang tua. Mungkin beberapa orang tua sudah berpikir jauh tentang masa depan anak mereka ketika Moms dan Daddy memutuskan untuk berpisah, namun sebagian lainnya tidak memikirkannya. Akibatnya, anak-anak mendapatkan banyak beban. Alih-alih buah hati mendapatkan haknya, anak-anak justru menanggungnya.

Menjadi korban broken home memang selalu dilekatkan dengan masa depan buram, rasa tidak percaya diri, sampai kegagalan hidup. Sebenarnya tidak demikian, stigma buruk tersebut bisa dirubah dengan kepercayaan diri anak-anak. Jika demikian, apakah anak-anak broken selalu merasa insecure?

Simak jawabannya dalam ulasan berikut ini.

2 dari 5 halaman

Masalah Emosional

Ilustrasi anak stress belajarIlustrasi anak stress belajar © ez.insure

Seperti dikutip dari laman healthyway.com, anak-anak yang setiap hari melihat kedua orang tuanya berdebat atau bahkan sampai bertengkar bisa meningkatkan stress, dan frekuensi trauma emosional.

Pengetahuan tentang ketegangan antara Moms dan Daddy dapat menyebabkan kecemasan dan kekhawatiran, yang dapat diterjemahkan ke dalam masalah perilaku atau emosional. Lebih parahnya lagi, anak-anak mungkin juga akan menyalahkan diri mereka sendiri atas perkelahian Moms dan Daddy, lho.

3 dari 5 halaman

Masalah Komitmen

Ilustrasi Perempuan JombloIlustrasi Perempuan Jomblo © shutterstock.com/Maridav

Setiap anak yang menjadi korban broken home selalu diidentikan dengan rasa insecure saat berkomitmen atau berhubungan. Terkadang anak-anak broken home disebut selalu menjauh sejauh mungkin dari hubungan. Hal ini terjadi karena keyainannya melihat orang tuanya akan membuat mereka juga memiliki hidup yang sama dan membuatnya terluka.

Secara tidak langsung anak-anak takut dengan hubungan yang akan mengulangi kesalahan orang tuanya. Hubungan orang tua yang tidak sehat juga akan membuat anak-anak selalu merasa cemas dan lebih mempertimbangkan komitmen. Akibatnya, anak-anak mungkin akan menjauh dari hubungan asmara.

4 dari 5 halaman

Penyakit Kejiwaan

Ilustrasi Perempuan JombloIlustrasi Perempuan Jomblo © freepik.com/drobotdean

Moms mungkin sudah tahu jika anaka-anak korban dari broken home memiliki peluang lebih tinggi untuk menghadapi masalah stress. Buah hati yang hidup dengan keluarga berantakan lebih mungkin menderita masalah mental yang merusakan daripada mereka hidup dengan lingkungan dan hubungan orang tua yang sehat.

Lebih dari itu, anak-anak yang menjadi korban broken home lebih mungkin memiliki prestasi yang lebih buruk di sekolah, menderita kesehatan yang buruk, hingga menanggung kemiskinan, kejahatan, dan haus kasih sayang.

Tak jarang jika anak-anak yang hidup dengan keluarga berantakan lebih berpeluang besar memiliki perilaku buruk seperti mengakibatkan kekerasan, agresif, parahnya mereka akan hidup anti sosial.

5 dari 5 halaman

Apakah Anak-anak Korban Broken Home Bisa Lebih Menghargai Pernikahan?

Ilustrasi PernikahanIlustrasi Pernikahan © freepik.com/jcomp

Menurut seorang ahli psikolog, seperti yang dikutip dari laman psykologytoday.com, pada dasarnya tidak semua korban broken home memiliki masa depan buruk, Setiap orang tua dapat menemukan kebahagiaan setelah hubungan berakhir, yang dapat membuat kehidupan rumah anak lebih baik dan memberi mereka contoh hubungan yang sehat.

Anak-anak juga belajar apa yang terjadi ketika pasangan tidak mampu membuat segala sesuatunya berjalan dengan baik. Melihat ketidakbahagiaan, kemarahan, dan perilaku buruk lainnya mungkin menjauhkan diri dari sifat-sifat hubungan seperti itu di masa depan. Mungkin juga, menyebabkan mereka bekerja lebih keras karena mereka tahu apa yang terjadi ketika segala sesuatunya berantakan.

Namun, sebelum mereka dapat melakukan ini, anak-anak mungkin mendapat manfaat dari melihat seseorang yang dapat memahami apa yang telah dia alami sebagai anak-anak.

Beri Komentar