Terlalu Sering Chatting Disebut-sebut Bikin Hubungan Jadi Tidak Bahagia, Bener Gak sih?

Reporter : Olivia Lidya Elsanty
Senin, 25 Oktober 2021 15:51
Terlalu Sering Chatting Disebut-sebut Bikin Hubungan Jadi Tidak Bahagia, Bener Gak sih?
Nasib LDR gimana nih?

Kemajuan teknologi mempermudah kita dalam melakukan komunikasi. Hal ini tentunya sangat positif, namun sebuah studi justru mengungkap fakta berbeda.

Kemajuan teknologi nggak hanya berdampak positif, tapi juga bisa memberi pengaruh negatif. Pengaruh buruk ini bahkan terjadi pada hubungan romansa.

1 dari 4 halaman

Dalam sebuah studi yang dilakukan di Brigham Young University, ada sekitar 276 pasangan dewasa yang dijadikan sampel penelitian. Dari penelitian tersebut diperoleh kesimpulan jika pasangan yang terlalu sering chatting justru berisiko membahayakan hubungan asmara. Kok bisa?

Melansir dari Huff Post, pasangan yang sering bertengkar, minta maaf, atau bahkan membahas hal serius melalui chat justru rentan mengalami hubungan yang tidak bahagia. Temuan ini diperkuat dengan kondisi hubungan yang jarang bertemu secara intens atau jarang bicara empat mata.

2 dari 4 halaman

Ilustrasi ChattingIlustrasi Chatting © shutterstock.com/id/g/dodotone

Di sisi lain, 80% responden mengaku jika mereka hanya beberapa kali mengirim pesan pada pasangannya. Dalam sehari, biasanya mereka menyempatkan untuk menyampaikan ungkapan kasih sayang. Perilaku semacam ini yang malah bisa meningkatkan hubungan asmara.

Dari sini, tim peneliti mengungkap bahwa chatting memang tidak salah. Namun bagaimana cara chatting itu dilakukan, yang bisa memberi dampak pada hubungan.

3 dari 4 halaman

Cara chatting yang tepat (tidak kurang atau tidak berlebihan) bisa membantu membentuk hubungan yang sehat. Namun lagi-lagi, intensitas pertemuan secara fisik ikut memengaruhi kondisi hubungan tersebut. Pasangan yang hanya chatting tanpa bertatap muka lebih mudah mengalami kekecewaan dalam hubungan.

Lebih lanjut tim peneliti mengungkapkan, teknologi memang bisa membantu meningkatkan hubungan dengan pasangan. Namun perlu ada keseimbangan, antara hubungan secara virtual maupun secara fisik.

Beri Komentar