Besarkan Lima Anak Tanpa Bantuan Baby Sitter, Ini Cerita dan Tips Parenting Ala Mawar Firdausi

Reporter : Riza Umami
Minggu, 10 Januari 2021 08:17
Besarkan Lima Anak Tanpa Bantuan Baby Sitter, Ini Cerita dan Tips Parenting Ala Mawar Firdausi
At the end of the day, children may forget what you say, but they will never forget what you make them feel. - Mawar Firdausi.

Anak adalah karunia dari Tuhan yang kehadirannya ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi keluarga. Orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Oleh sebab itu, sangat penting untuk terus belajar tentang parenting dan dunia anak ini.

Editor diadona.id berkesempatan untuk mewawancarai seorang ibu rumah tangga yaitu Mawar Firdausi yang membesarkan lima anaknya bersama dengan sang suami. Hal yang unik adalah karena keduanya merawat dan mengurus anaknya tanpa bantuan baby sitter lho. Mari kita simak cerita dan tips parenting ala Mawar Firdausi.

1 dari 10 halaman

Mengasuh Lima Anak Tanpa Bantuan Baby Sitter

Mawar dan Keluarga

Mawar mengatakan bahwa dalam mengurus anak, dia tidak dibantu oleh baby sitter. Namun, di rumah ada asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan rumah. Meski begitu, dia sangat berhati-hati dalam memilih asisten yang bekerja padanya karena anak-anak cenderung meniru siapa pun yang ada di sekitarnya.

" Itulah mengapa kami memilih orang yang jujur, sabar, rajin, dan telaten. Kami juga memilih yang muslim agar bisa sama-sama mengajarkan kebiasaan ibadah dan doa harian" , ucap Mawar.

2 dari 10 halaman

Bagaimana Caranya Membagi Kasih Sayang dan Waktu untuk Lima Anak Sekaligus?

Mawar dan Keluarga

Mawar kemudian menjawab, " Saya tidak pernah membagi kasih sayang. Setiap anak mendapat kasih sayang yang sama. Bukan seratus persen dibagi lima, tetapi lima anak masing-masing mendapat seratus persen kasih sayang" .

" Kami sering melakukan aktivitas bersama, tetapi saya selalu meluangkan waktu 1-on-1 (we-time) dengan tiap anak. Biasanya 'we time ini' diisi dengan sesi curhat sambil berpelukan atau memainkan permainan kesukaan anak. Harapannya, dengan begitu, anak tidak merasa tersisih dan terabaikan" , ucap Mawar lebih lanjut.

3 dari 10 halaman

Sikap Ibu Ketika Anak Ada yang Berantem atau Iri dengan Saudaranya

Mawar dan Keluarga

Dalam kondisi yang seperti ini, biasanya Mawar akan melihat dulu bagaimana kronologinya dan apa yang menyebabkan pertengkaran tersebut. Dia akan menanyakan cerita versi dari tiap anak dan juga meminta kesaksian dari saudaranya yang melihat kejadian tersebut.

Kemudian, dia akan menengahi pertengkaran itu dan meminta anak-anaknya untuk saling bermaafan. Selain itu, dia juga menekankan pada anak-anaknya bahwa mereka adalah saudara sampai tua nanti. Keluarga dan saudara ini akan selalu ada, bukan teman dan bukan juga mainan.

" Itulah mengapa saudara harus rukun dan kompak. Ibarat robot Power Rangers, kalau ada satu bagian yang ngambek atau menyakiti bagian yang lain, robot raksasa Megazord nggak akan ada. (Tiap anak saya punya warna jagoan power rangers sendiri-sendiri, hehehe, karena itu saya memakai contoh ini)" , kata Mawar.

4 dari 10 halaman

Suka Duka Menjadi Seorang Ibu dari Lima Anak

Mawar dan Keluarga

Mawar mengatakan bahwa menjadi ibu lima anak sebenarnya memang melelahkan karena selain melakukan tugas rumah tangga, ada pula tugas sekolah anak yang perlu didampingi oleh ibu sehingga pekerjaannya ini memanglah banyak.

Rumah pun jadi jarang rapi, tetapi dia sangat bersyukur karena rumah selalu ramai dengan canda tawa anak-anak. Di luar sana, ada banyak orang yang harus menanti bertahun-tahun untuk mendapatkan nikmat tersebut. Apalagi di masa pandemi seperti ini, dengan memiliki banyak saudara, kebutuhan anak untuk berinteraksi dengan anak lainnya pun cukup terpenuhi.

Saat ditanya apa sebenarnya alasan mempunyai banyak anak, jawaban Mawar pun begitu singkat. Dia mengatakan, " Allah yang kasih, hehe. Tapi memang suami menginginkan banyak anak karena kami berdua berasal dari keluarga besar" .

5 dari 10 halaman

Jarak Usia Masing-Masing Anak Cukup Berdekatan

Mawar dan Keluarga

Ada hal yang unik lagi dari keluarga ini yaitu masing-masing anak jarak usianya cukup dekat satu sama lain. Tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk Mawar sebagai ibu. Dia menceritakan tantangan terbesar ada di dua tahun pertama, saat dia hamil sambil menyusui. Nutrisinya harus benar-benar terpenuhi karena untuk kebutuhan tiga orang, dirinya sendiri, anaknya dan juga janin yang ada di dalam kandungan.

" Saat persalinan juga risiko tinggi karena saya hamil lagi saat rahim belum pulih benar. Akibatnya, saya selalu mengalami pendarahan hebat sejak persalinan kedua. Tensi saya drop hingga 70/54 di persalinan anak kedua, Hb tinggal 6 di persalinan anak ketiga, dan plasenta terlepas saat persalinan keempat. Akhirnya saya SC dan steril di persalinan kelima karena sudah risiko sangat tinggi dan mengancam nyawa." , ucapnya.

Tak berhenti sampai di situ, setelah bayinya lahir, tantangan ini juga biasanya hadir dari si kakak yang merasa cemburu karena perhatian orang tua harus terbagi. Sibling rivalry pun hadir dalam bentuk yang berbeda-beda pada setiap anak. Mawar menceritakan ada anaknya yang jadi hiperaktif demi mencari perhatian, ada yang cuek, ada juga yang mogok makan dan bicara hingga seminggu. Wah, macam-macam sekali ya.

6 dari 10 halaman

Memutuskan untuk Menjadi Parenting Enthusiast

Mawar dan Keluarga

Di samping kesibukannya sebagai ibu dari lima anak, Mawar juga memutuskan untuk menjadi seorang parenting enthusiast dan kerap berbagi tips parenting di akun media sosialnya. Alasan terbesarnya untuk melakukan hal tersebut adalah karena anak. Dia pun begitu tertarik akan dunia parenting dan anak ini karena ingin menjadi ibu terbaik untuk anak-anaknya.

Mawar mengatakan, " Saya punya 5 anak, dan tentunya dituntut untuk terus belajar tentang parenting. Ternyata dunia parenting dan motherhood itu luaaaaass sekali, dan sayangnya banyak perempuan disiapkan untuk jadi sarjana dengan sekolah tinggi tapi tidak disiapkan dengan ilmu untuk menjadi ibu dan istri" .

" Dulu anak sulung saya pernah didiagnosis gejala autisme karena usia 3 tahun belum bicara dan tidak ada kontak mata. Seiring berjalannya waktu, dengan terapi, gejala autisme ini mulai berkurang. Sekarang Faruq sudah bisa komunikasi dengan baik. Kami coba berkonsultasi dengan psikolog lain, ternyata Faruq ADHD dan Disleksia. Saya juga merasa perlu banyaaaak sekali belajar terkait hal ini." , tambahnya.

7 dari 10 halaman

Pernah Merasa Gagal dengan Cara Mendidik

Mawar dan Keluarga

Meski selalu belajar dan terus berusaha menambah pengetahuan tentang parenting, Mawar pun mengaku pernah merasa sangat gagal dalam cara mendidik anak yang dia pilih. Hal ini dia alami ketika anak sulungnya didiagnosis gejala autisme.

Dulu dia mengira memaparkan anak dengan video edukasi berbahasa Inggris di televisi dan gadget adalah hal yang bagus. Namun, ternyata anggapan tersebut tidaklah benar. Anaknya malah mengalami 'speech delay', tidak ada kontak mata, hiperaktif, dan banyak gejala lainnya.

Apa yang ibu anggap benar memang tak selamanya akan bagus untuk anak. Pengalaman merupakan salah satu guru terbaik. Meski sempat mengalami kegagalan terbesarnya dalam mendidik anak, tetapi tentu ini tak lantas membuat Mawar patah semangat. Dia justru makin bersemangat untuk memperkaya pengetahuannya seputar parenting agar hal sejenis tak akan terjadi lagi ke depannya.

8 dari 10 halaman

Di samping Menjadi Ibu juga Menjalankan Bisnis Bersama Suami

Mawar dan Keluarga

Mawar memiliki sebuah bisnis penerjemahan yang dia bangun bersama dengan suaminya di Malang. Dia pun memberikan tips bagaimana agar dua peran ini bisa dijalankan dengan baik dan tanpa bentrokan. Dia mengatakan bahwa dirinya selalu membedakan urusan rumah tangga dengan usaha.

" Kami meluangkan waktu khusus untuk membicarakan kantor tanpa membicarakan rumah tangga, begitu juga sebaliknya. Dengan begitu, urusan keduanya tidak pernah tercampur atau bentrok. Rekening rumah tangga dan usaha juga dibedakan untuk meminimalisir konflik. Kami menentukan visi dan misi di awal sehingga arah dan tujuan usaha dan keluarga terpetakan dengan jelas. Beda pendapat pasti ada, tapi semua hal didiskusikan dan diputuskan bersama demi kebaikan semua pihak." , tuturnya.

9 dari 10 halaman

Mengasuh Anak di Masa Pandemi

Mawar dan Keluarga

Di masa pandemi ini anak jadi lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah sampai sekolah pun dilakukan secara online dari rumah. Ibu tentu mengalami kesulitan selama pandemi ini, begitu pula dengan Mawar. Dia mengatakan bahwa masalah terbesarnya adalah banyaknya tugas dari sekolah.

Dia menceritakan, " Biasanya kami menerima tugas saja, tapi di masa pandemi kami juga harus menyampaikan materi. Apalagi, empat anak kami sekolah semua dengan jenjang dan tugas yang berbeda setiap hari. Kadang, empat anak zoom dan video call berbarengan dalam satu hari sehingga kami harus berpindah dari satu layar ke layar lain. Tapi, ini ada hikmahnya juga. Saya jadi mengetahui perkembangan dan pemahaman setiap anak saya karena menangani mereka secara langsung" .

Selain itu, orang tua pun perlu berusaha membuat anak tetap di rumah apalagi anak-anak ini cenderung mudah bosan bila hanya berada di dalam rumah untuk waktu yang lama. Mawar mengatakan cara yang bisa dilakukan agar anak tetap betah di rumah ini adalah dengan membuat kegiatan yang menyenangkan.

Mawar pun menjelaskan, " Kita bisa mengenalkan anak-anak ke permainan jaman dulu, misalnya petak umpet, lompat tali, engklek, bekelan, dakon dll. Kita juga bisa melibatkan anak-anak dalam kegiatan rumah tangga, misalnya memasak, berkebun, dan menjaga kebersihan rumah. Dengan demikian, kita sekaligus mengajarkan life skill untuk anak-anak."

" Kalau mati gaya, kita bisa mencetak printables yang tersedia gratis di internet atau membeli permainan Montessori sederhana yang dijual di marketplace dengan harga terjangkau (misalnya, pom pom, balok susun dll). Banyak juga kegiatan DIY dan keterampilan yang bisa dilakukan di rumah. Intinya, kita harus kreatif. Kadang diajak melihat bintang atau bermain air saja anak-anak sudah senang loh" , tambahnya.

10 dari 10 halaman

Pesan dan Harapan

Mawar dan Keluarga

Terakhir, Mawar pun menyampaikan pesannya pada seluruh orang tua di luar sana. Dia berpesan, " Jadi orang tua kadang berat, 'but enjoy every moment, cause they will not be kids forever'. Saat mereka beranjak besar, pasti kita akan merindukan saat rumah kita berantakan sepanjang hari, saat mereka masih bergelayutan di kaki kita, atau saat mereka minta dipeluk sepanjang malam dan tak ingin berpisah sedetik pun" .

Harapan Mawar untuk para ibu di seluruh Indonesia, " Semoga kita bisa mendidik anak-anak menjadi pribadi yang tak hanya hebat, bermanfaat, dan berakhlaqul karimah, tapi juga bisa membangun peradaban yang kelak memajukan Indonesia di mata dunia" .

At the end of the day, children may forget what you say, but they will never forget what you make them feel.
Mawar Firdausi

Beri Komentar