Sejak 1950-an, Mengenal Ketupat Jembut Syawalan Khas Semarang

Reporter : M. A. Adam Ramadhan
Kamis, 2 Januari 2020 13:23
Sejak 1950-an, Mengenal Ketupat Jembut Syawalan Khas Semarang
Namanya yang nyentrik membuat banyak orang penasaran dengan makanan ini. Apa sih sebenarnya Ketupat Jembut itu?

Tolong, kalau kamu punya pikiran yang nggak-nggak, ditahan aja dulu. Nyatanya, makanan ini jauh dari kesan porno.

Makanan Kupat Jembut berasal dari kota Semarang, persisnya di kampung Jaten Cilik. Kupat ini biasanya hadir untuk memeriahkan syawalan yang khususnya diperuntukkan oleh . Orang-orang juga menyebarkan uang untuk bocah-bocah kecil ketika pembagian kupat tersebut.

Dari desas-desus yang beredar, seperti yang dilansir Brilio (09/12) sebelumnya, keberadaan ketupat jemput sudah ada sejak tahun 1950-an, yang dimulai dengan Mbah Sutimah dan Mbah Samin. Tentu, pada masa itu, ketupat tersebut belum diberi embel-embel nyeleneh seperti sekarang.

Di sisi lain, Kumparan (09/12) melansir bahwa ketupat jembut hadir sejak Perang Dunia ke-2. Dikatakan bahwa Perang Dunia ke-2 membuat gaya hidup masyarakat Jaten Kecil harus dalam kesederhanaan. Jadi ketika Ramadhan telah tiba, warga berinisiatif untuk menggelar syukuran seminggu setelah lebaran, tapi tetap dalam simpel.

Maka, pada saat itu, lahirlah ketupat dengan hanya berisi taoge, kelapa, dan lombok. Masyarakat Jaten Cilik percaya bahwa ketupat jembut merupakan simbol kesederhanaan itu sendiri.

1 dari 1 halaman


Asal-asul penamaan kupat dengan nama 'jembut' pun masih belum jelas. Mungkin, karena kupat ini berbeda dengan kupat lainnya, yaitu berisi sayur-sayuran, terutama toge, yang diibaratkan menyerupai rambut kemaluan manusia. Bisa jadi.

Liputan6 (09/12) juga menyebutkan bahwa warga sana percaya pembagian kupat jembut dan uang merupakan penyempurna ibadah setelah menjalani puasa 30 hari dan syawal 6 hari.

Dikutip dari Brilio 09/12), pembuatan ketupat jembut ini pun nggak jauh berbeda dengan ketupat pada umumnya, yaitu mengisi beras dan memasaknya pada anyaman daun kelapa. Ketika sudah matang, ketupat itu dibelah. Selain toge, seiring berjalannya waktu kini warga Jaten juga kadang mengisi ketupat itu bervariasi dengan memberi isian lombok, kubis,dan parutan kelapa.

Di samping itu, rasa ketupat ini berbeda dengan ketupat pada umumnya. Lebih lezat. Sebab, saat ketupat dimasak sudah diberi bumbu. Jadi meski disantap tanpa kuah pun, ketupat jembut ini sudah enak.

 

Wah, jadi makin penasaran sama Ketupat Jembut ini, ya? ATau, kamu udah pernah nyoba ketupat ini? Sharing di kolom komentar, dong!

Beri Komentar