Ganti Isi Piringmu untuk Melawan Perubahan Iklim hingga Mengurangi Sampah Makanan

Reporter : Kurnia
Rabu, 8 Desember 2021 10:17
Ganti Isi Piringmu untuk Melawan Perubahan Iklim hingga Mengurangi Sampah Makanan
Mulai dengan cara ini, yuk

Moms pasti sudah tahu kan jika sampah jadi persoalan berbagai kalangan di Indonesia, termasuk sampah makanan. Indonesia bahkan menempati peringkat nomor dua di dunia setelah Arab Saudi yang mengalami persoalan sampah makanan dan berdapampak pada perubahan iklim.

"Sayang banget ya, bukan prestasi. Itu bisa jadi bahan untuk refleksi. Berdasarkan data dari Economist Intelligent Unit menyebutkan bahwa Indonesia membuang sekitar 300 kilogram makanan per orang setiap tahun. Itu sesuatu yang sangat besar," ujar pendiri Zero Waste Indonesia, Maurilla Sophianti Imron yang akrab disapa Mauril saat berbincang soal Zero Waste Indonesia mengenai kampanye Make It Last dari Electrolux pada 4/12/2021, lalu.

1 dari 5 halaman

Jika makanan itu dimanfaatkan dengan baik, sangat bisa untuk memenuhi 100 persen kebutuhan gizi masyarakat Indonesia yang masih kekurangan. Sekitar 40 persen timbunan sampah itu berasal dari makanan dan 58 persen itu berada dalam tahap konsumsi.

" Jadi, ada perilaku di masyarakat Indonesia yang tidak menghabiskan makanannya atau membuang-buang makanananya. Itu juga termasuk sayur-sayur dan buah yang tidak sampai ke retail atau ke supermarket karena preferensi kita. Intinya, mengapa itu terjadi karena masalah konsumsi dan cara kita memilih makanan," papar Mauril.

2 dari 5 halaman

Dalam kesempatan tersebut, Mauril mengatakan bahwa sampah makanan menjadi penyebab perubahan iklim di Indonesia.  " Contoh, energi yang keluar dari pilihan-pilihan yang kita pilih, seperti seperti CO2 dan emisi karbon. Pilihan makanan sangat berdampak pada lingkungan, karena di sana ada proses produksi, termasuk proses transportasi hingga ke piring kita," tutur Mauril.

Lantas, apa sih yang bisa dilakukan untuk berkontribusi mengurangi sampah makanan dan mencegah terjadinya perubahan iklim di muka bumi ini? Dikutip dari di Liputan6.com, berikut adalah beberapa cara yang paling tepat untuk mengurangi sampah makanan sampai melawan perbuhan iklim yang menakutkan.

3 dari 5 halaman

Mengurangi Konsumsi Daging

Ilustrasi Daging SteakIlustrasi Daging Steak © unsplash.com / Ben Amaral

Ajiputra dari 360 Marketing Electrolux juga sependapat bahwa timbunan sampah makanan sangat mengkhawatirkan. Karena itu, salah satu cara untuk menguranginya dapat dilakukan dengan memilih makanan agar bisa berkelanjutan.

" Selama ini, kita menerima makanan apa adanya saja. Padahal, pemilihan makanan sangat penting," kata Aji. Pilihan makanan itu sangat berpengaruh pada energi, CO2 dan emisi karbon.

Mengubah isi piring dan menu makanmu sehari-hari adalah adalah langkah awal untuk mengurangi CO2 dan emisi karbon yang berhaya." Daging-dagingan itu sangat tinggi menghasilkan CO2 dan yang paling rendah karbon itu kacang-kacangan dan sayur-sayuran. Tapi ironisnya, sayur hanya dianggap sebagai pelengkap saja," ujar Mauril.

Masyarakat kebanyakan masih menganggap daging sebagai yang paling dominan. Walau harganya terbilang mahal, daging dipilih karena rasanya nyaman di lidah. " Makannya orang kita itu lebih banyak yang memilih daging daripada sayur," lanjut Ajiputra.

4 dari 5 halaman

Perbanyak Makan Sayur

Ilustrasi SayuranIlustrasi Sayuran © 2019 https://www.diadona.id/healthline

Mauril berkata, perubahan pola makan untuk mengurangi daging bisa dilakukan dengan cara memperbanyak sayur. Namun, perubahan itu tidak bisa dilakukan secara instan.

" Kita kurangi dulu dagingnya dengan memperbanyak sayur. Besoknya, konsumsi daging lebih dikurangi lagi, dan seterusnya," ujar Mauril.

" Kita banyak sekali pilihan, tahu dan tempe juga bisa mengenyangkan, begitu juga dengan umbi-umbian, selain mengenyangkan juga enak," imbuh Mauril.

Dengan memperbanyak sayur, berarti dapat mengurangi proses produksi menjadi makanan yang tersaji di atas piring. " Karena dari langkah kecil ini bisa berkontribusi melindungi lingkungan dan memperlambat perubahan iklim," lanjutnya.

Beri Komentar