Marvel Dan Louise Di Hongkong
Kisah ini tidak berawal dari ambisi menjadi juara dunia. Justru ceritanya dimulai dari kebiasaan yang sangat umum pada anak-anak: lebih senang menonton dan bermain gim dibandingkan mengerjakan tugas sekolah.
Bagi Marvel Rasendria Herdian yang saat itu masih duduk di kelas 2 SD, momen tersebut menjadi awal perkenalannya dengan konsep “hukuman positif”. Bukan larangan bermain atau penyitaan gawai, melainkan ajakan untuk mencoba mengikuti olimpiade sebagai sarana menyalurkan energi dan rasa ingin tahu ke arah yang lebih terarah.
Tanpa target besar, Marvel mengikuti Asia International Mathematical Olympiad atau AIMO. Ia mengerjakan soal dengan santai, belajar dari prosesnya, tanpa terlalu memikirkan hasil akhir. Namun langkah pertamanya itu justru membawanya meraih medali emas dan tiket menuju final internasional di Malaysia.
Di babak final AIMO, Marvel merasakan atmosfer kompetisi yang jauh berbeda. Dari lebih dari 2.000 peserta internasional, hanya sekitar 20 peserta berasal dari Indonesia. Skala kompetisi yang besar, jumlah kontingen negara lain, hingga sorakan yang menggema membuatnya sempat merasa gugup.
Di sekolah, Marvel dikenal sebagai siswa dengan capaian akademik yang sangat baik. Namun pengalaman tersebut menyadarkannya bahwa olimpiade tidak hanya mengandalkan kecerdasan akademik. Mental, keberanian, dan kesiapan berada di panggung yang lebih luas menjadi faktor yang tak kalah penting.
Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika para juara berdiri di atas panggung sambil mengibarkan bendera negara masing-masing. Dari situ muncul keinginan sederhana dalam dirinya: suatu hari ingin kembali berdiri di sana sambil membawa Merah Putih.
Sejak pengalaman itu, Marvel mulai rutin mengikuti berbagai kompetisi, baik nasional maupun internasional. Ia belajar membagi waktu, mengurangi jam bermain, dan membiasakan diri berlatih, bahkan saat masa liburan. Baginya, perjalanan ini bukan semata soal menang, tetapi tentang konsistensi dan memahami batas kemampuan diri.
Pada Final AIMO 2024 di Korea Selatan, Marvel kembali tampil di level internasional. Selain berkompetisi, ia juga berpartisipasi dalam sesi cultural performance saat Award Ceremony dengan menampilkan Tari Piring. Tampil di hadapan hampir 2.000 peserta dari 16 negara menjadi cara sederhana baginya memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia.
Oktober 2025 menjadi langkah berikutnya ketika Marvel mengikuti babak penyisihan NEO Math secara daring. Ia berhasil masuk Top 10 Highest Score dan meraih medali emas, yang membawanya ke Grand Final di Amerika Serikat pada 13 Januari 2026.
Di babak Grand Final tersebut, Marvel meraih:
Second Top Highest Score untuk kategori Mathematics
Medali Emas untuk kategori Natural Science
Perjalanan ke Amerika Serikat juga memberinya pengalaman di luar arena lomba. Ia berkesempatan mengunjungi NASA, menyaksikan peluncuran roket Falcon 9 SpaceX, dan mengikuti kelas pelatihan astronaut. Dari sana ia menyadari bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya ada di dalam buku, tetapi nyata dan hidup di dunia sekitar.
Dalam tiga tahun terakhir, Marvel telah mengikuti berbagai kompetisi di Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, Singapura, dan Malaysia. Total lebih dari 60 medali berhasil ia kumpulkan.
Beberapa ajang yang pernah diikutinya antara lain German Math Olympiad, SIMOC, SMGF, WMI, AMO, HKIMO, TIMO, SASMO, PHIMO, ADEPT, JISMO, serta sejumlah olimpiade matematika dan sains lainnya. Pada 2025, ia menerima JISMO Legend Award dari Japan International Science and Mathematics Olympiads, penghargaan bagi peserta yang telah memenangkan empat atau lebih ajang JISMO.
Tak hanya fokus pada matematika dan sains, Marvel juga mencoba berbagai bidang lain seperti World Scholar’s Cup, debat OWLPIA, Spelling Bee, English Olympiad, hingga kompetisi coding dan logika. Ia menikmati proses belajar lintas disiplin tanpa membatasi diri pada satu bidang saja.
Perjalanan Marvel secara alami memberi pengaruh pada adiknya, Louise, yang saat itu berusia 6 tahun. Ketertarikannya pada olimpiade bukan karena ambisi mengejar prestasi, melainkan keinginan sederhana untuk berdiri di atas panggung dan mengibarkan bendera Indonesia.
Dari rasa ingin tahu tersebut, Louise mulai mencoba berbagai kompetisi. Pada Juli 2025, ia meraih Premier Award atau Highest Score untuk kategori Bahasa Inggris serta Gold Medal untuk kategori Matematika dalam ajang internasional di Hong Kong. Dalam waktu satu tahun, Louise telah mengikuti berbagai kompetisi dan mengumpulkan lebih dari 20 medali di bidang Matematika dan Bahasa Inggris.
Bagi Marvel dan Louise, olimpiade bukan hanya tentang perolehan medali. Ajang tersebut menjadi ruang belajar untuk mencoba, gagal, bangkit, dan mengenal diri sendiri.
Di luar kompetisi, mereka tetap menjalani masa kecil dengan aktivitas lain. Marvel aktif dalam basket dan karate, serta seni seperti piano, biola, gitar, dan teater musikal. Ia juga terus mengasah kemampuan public speaking dan leadership yang membantunya lebih percaya diri saat bertemu orang dari berbagai latar belakang.
Hari ini, Marvel dan Louise masih terus berproses. Dari pengalaman yang awalnya terasa seperti sebuah “hukuman”, keduanya menemukan jalan untuk berkembang, mengenal dunia, dan perlahan membawa Merah Putih ke panggung internasional dengan langkah yang tenang dan cara mereka sendiri.
Pengen Body Goals Kayak Zhao Lusi? Ini Rahasia Diet 'Ratu Drama' yang Sukses Turun 16 Kg!
Pengen Body Goals Kayak Zhao Lusi? Ini Rahasia Diet 'Ratu Drama' yang Sukses Turun 16 Kg!
Pigmenta Nusantara, UIFW Hadirkan Dialog Tradisi dan Keberlanjutan Lewat Trunk Show Eksklusif
Bukan Sekadar Main-Main, Ini Panduan Santai Mengenal Fase Motorik Anak dan Cara Melatihnya

Pigmenta Nusantara, UIFW Hadirkan Dialog Tradisi dan Keberlanjutan Lewat Trunk Show Eksklusif

Sah! Brisia Jodie dan Jonathan Alden Mengikat Janji di Katedral

Resmi Jadi Ibu, Vior Melahirkan Putri Pertama dengan Nama Cantik, Wajah Baby V Bikin Penasaran

Akhirnya Sah! Dara Arafah dan Rehan Mubarak Resmi Menikah di Tanah Suci

Amanda Manopo Umumkan Hamil Anak Pertama, Sara Wijayanto Siap Jadi 'Buyang'