Kini Telah Ada Peti Mati Ramah Lingkungan, Kayak Apa ya?

Reporter : Andrawira Diwiyoga
Senin, 5 Oktober 2020 16:50
Kini Telah Ada Peti Mati Ramah Lingkungan, Kayak Apa ya?
Bakal bisa dipake lagi buat ngubur orang gak ya?

Di agama Islam, orang yang sudah meninggal sebelum dikuburkan akan dibalut dengan kain kafan lalu dimakamkan. Berbeda dengan umat Kristiani, orang yang sudah meninggal akan dikuburkan dengan dimasukkan terlebih dahulu ke dalam peti mati.

Menggunakan peti mati merupakan budaya bagi warga barat atau Eropa untuk menguburkan seseorang. Namun, kini telah muncul inovasi terbaru yang berkaitan dengan peti mati.

Kini, peti mati telah muncul varian yang ramah lingkungan. Wah seperti apa ya peti matinya itu?

1 dari 5 halaman

Living Cocoon

Dikutip dari KOmpas, seorang ahli desain dari Deft Univer4sity of Technology di Belanda telah bekerja sama dengan muesum sejarah alam setempat untuk mengembangkan Living Cocoon. Living Cocoon adalah sebuah peti mati yang terbuat dari jamur khusus.

Hal yang spesial dari peti mati ini adalah dapat mempercepat waktu yang dibutuhkan tubuh manusia untuk terurai. Tidak hanya jasadnya saja, pakaian serta bahan lain yang terkubur dengannya juga akan dipercepat penguraiannya.

Living CocoonLiving Cocoon © dezeen.com

2 dari 5 halaman

Jamur Miselium

Proses penguraian jasad dengan benda-benda tersebut biasanya membutuhkan waktu sekitar satu dekade atau 10 tahun. Dengan peti mati ini, proses penguraian yang dibutuhkan hanya memakan waktu dua tahun saja.

Hal ini terjadi karena adanya miselium, yaitu koloni bakteri mirip jamur yang memiliki kemampuan berkembang dengan cepat dan menjadi jaringan bawah tanah yang sangat besar.

Miselium memang dapat lebih baik dalam mengurai bahan yang lebih keras yang merupakan bagian dari tubuh manusia.

3 dari 5 halaman

Tubuh Manusia sebagai Nutrisi

Miselium juga dapat menetralkan zat beracun serta memberi nutrisi pada apapun yang tumbuh di dekatnya. Hal ini berarti tanah akan benar-benar mendapat manfaat dalam jangka panjang.

" Living Cocoon memungkinkan orang untuk menyatu dengan alam lagi dan memperkaya tanah, bukan mencemarinya," ucap Bob Hendrixx, pendiri Loop yang merupakan start up yang mengembangkan peti mati ini.

Mereka pun juga telah mencoba memakamkan menggunakan peti mati ini. Loop juga mengklaim kalau produknya tersebut merupakan yang pertama di dunia.

" Kami ingin tahu persis apa kontribusi bagi tanah, karena ini akan membantu meyakinkan untuk mengubah daerah yang tercemar menjadi hutan sehat dngan menggunakan tubuh manusia sebagai nutrisi," ucap Hendrixx.

4 dari 5 halaman

Proses Lama

Tetapi, untuk membuat Living Cocoon ini membutuhkan waktu yang lama. Hal ini dikarenakan para peneliti harus menumbuhkan jamur miselium terlebuh dahulu.

Lalu, jamuur harus dikeringkan terlebih dahulu lalu ditempatkan di dalam peti mati. Setelah terkena tanah yang memiliki tekstur lembabp, jamur miselium ini akan hidup kembali dan memulia proses pembusukan.

Bob Hendrixx pun berharap kalau peti mati ini akan menjadi cara baru dalam memakamkan seseorang dengan cara yang lebih ramah lingkungan.

5 dari 5 halaman

Living CocoonLiving Cocoon © dezeen.com

Ada yang mau dimakamkan pake peti mati ramah lingkungan ini?

 

Beri Komentar