Dompet Dhuafa Ajak Keliling Jakarta Sambil Merawat Ingatan soal Palestina
Reporter : Ellyana Mae
Bukan hanya melalui diskusi, Dompet Dhuafa mengajak masyarakat membicarakan Palestina sambil menyusuri sejumlah ruang bersejarah di Jakarta.
Tiga tahun sejak eskalasi konflik pada 7 Oktober 2023, perhatian terhadap Palestina kembali diarahkan pada sejarah panjang perjuangan rakyatnya. Bukan hanya melalui diskusi, Dompet Dhuafa mengajak masyarakat membicarakan Palestina sambil menyusuri sejumlah ruang bersejarah di Jakarta.
Melalui kegiatan bertajuk “SolidaRIDEty Kita Palestina: Palestina Kita Adalah Palestina yang Merdeka”, Dompet Dhuafa menggelar diskusi di atas open top tour bus pada Selasa (7/10/2026). Kegiatan ini diikuti oleh berbagai kalangan aktivis kemanusiaan, publik figur, influencer, dan Key Opinion Leader (KOL).
Bincang Palestina di Atas Bus Keliling Jakarta
General Manager Advokasi Dompet Dhuafa, Arif Rahmadi Haryono, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk menjaga perhatian publik terhadap kondisi Palestina yang masih berlangsung hingga saat ini.
“Tiga tahun genosida sudah terjadi. Konon katanya gencatan senjata sudah ditandatangani, tapi hingga hari ini pembohongan terus terjadi. Pembunuhan terhadap masyarakat sipil, anak-anak, perempuan, lansia, masyarakat sipil yang tidak berdosa dan tidak bersalah masih menjadi target sasaran bagi masyarakat,” kata Arif.
Menurut Arif, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk merawat ingatan publik agar persoalan Palestina tidak berhenti menjadi perhatian sesaat.
“Kegiatan ini adalah upaya bersama menyuarakan kepada publik bahwa genosida masih terjadi dan kita ingin menjaga merawat ingatan publik terhadap hal tersebut. Tugas kita adalah bagaimana publik itu masih terus dibukakan matanya, agar terus mendoakan dan berpartisipasi aktif dalam segala macam bentuk yang bisa dilakukan, apapun caranya untuk kita bersama, berjuang dalam kemanusiaan,” tambahnya.
Rute perjalanan dimulai dari Ratu Plaza, Senayan, menuju Monas dan Bundaran HI, sebelum kembali ke titik awal. Selain diskusi, peserta juga mengikuti pembacaan puisi Palestina oleh Anzar Mustikowati dalam suasana khidmat.
Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama Dosen Hubungan Internasional Universitas Indonesia Shofwan Al Banna, Aktivis Kemanusiaan Wanda Hamidah, Komika Sammy Notaslimboy, serta Eka Annash dari The Brandals.
Melihat Perjuangan Palestina dari Jalanan Jakarta
Berada di atas bus membuat pembahasan Palestina tidak hanya berlangsung melalui percakapan, tetapi juga dikaitkan dengan ruang-ruang yang dilewati sepanjang perjalanan. Sejumlah bangunan dan monumen di Jakarta menjadi pengingat mengenai sejarah Indonesia dalam menolak kolonialisme dan memperjuangkan kemerdekaan.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Indonesia Shofwan Al Banna mengatakan, sejumlah ruang di sepanjang perjalanan memiliki kaitan dengan sejarah diplomasi dan penolakan terhadap imperialisme.
“Bangunan dan jalan-jalan ini menjadi bagian dari pesan diplomatik dan sejarah kolonial. Mari kembali ke DNA kita, mari kita kembali ke prinsip yang digariskan oleh para founding leaders kita sebagaimana yang kita lihat sepanjang perjalanan kita hari ini, salah satunya pelajaran dari patung selamat datang adalah penolakan terhadap segala bentuk penjajahan patung selamat datang ini perlawanan kita,” ujar Shofwan.
Salah satu bangunan yang dibahas adalah Masjid Istiqlal yang berdiri di kawasan bekas benteng pertahanan pemerintah Hindia Belanda. Keberadaan masjid tersebut kemudian dipandang sebagai bagian dari perubahan ruang kolonial menjadi simbol keagamaan yang membawa semangat pembebasan.
Keterkaitan antara sejarah Indonesia dan Palestina juga menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan sekadar peristiwa masa lalu. Bagi para peserta, pengalaman tersebut menjadi cara untuk melihat kembali nilai perjuangan yang pernah menjadi bagian dari perjalanan bangsa Indonesia.
Ajak Masyarakat Ambil Peran untuk Palestina
Aktivis Kemanusiaan Wanda Hamidah menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menyikapi kondisi Palestina. Menurutnya, dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan sebagai bentuk kepedulian terhadap kemanusiaan.
“Saya berharap kita punya negara yang teguh memegang prinsip anti penjajahan dan kita tetap harus melakukan perlawanan terhadap zionis,” kata Wanda.
Sementara itu, aktivis sekaligus peserta kegiatan, Chiki Fawzi, mengajak masyarakat untuk tidak bersikap pasif terhadap kondisi kemanusiaan di Gaza. Ia mendorong keterlibatan masyarakat melalui berbagai gerakan sipil serta mengajak pemangku kebijakan untuk terus menyuarakan dukungan bagi Palestina.
“Bagaimana toleransi perjuangan pada masa Indonesia memperjuangkan kemerdekaannya dan kondisi-kondisi arsitektur yang ternyata juga itu remind untuk kita masyarakat Indonesia itu harusnya nadinya nadi perjuangan bagaimana kita harus semuanya terlibat dalam pembebasan Baitul Maqdis dan Palestina,” seru Chiki.
Komika Sammy Notaslimboy turut menekankan bahwa kepedulian terhadap Palestina tidak semestinya dibatasi oleh agama maupun ideologi. Baginya, keberpihakan terhadap persoalan kemanusiaan dapat berangkat dari nilai kepedulian terhadap sesama.
Tiga Tahun Konflik, Bantuan Kemanusiaan Terus Berjalan
Kegiatan ini digelar ketika konflik di Gaza telah memasuki tahun ketiga sejak eskalasi pada Oktober 2023. Namun, persoalan Palestina sendiri memiliki sejarah yang jauh lebih panjang, termasuk sejak Nakba 1948 yang menyebabkan banyak warga Palestina kehilangan tempat tinggal.
Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan dasar masyarakat Gaza masih menjadi perhatian, mulai dari makanan, layanan kesehatan, air bersih, hingga tempat tinggal. Dompet Dhuafa turut menjalankan berbagai program kemanusiaan untuk membantu masyarakat Palestina.
Dukungan tersebut mencakup layanan kesehatan seperti rehabilitasi medis dasar, mobile clinic, ambulans, obat-obatan, dan shelter kesehatan darurat. Bantuan pangan juga disalurkan melalui food bank, dapur umum, makanan siap saji, serta program sedekah daging.
Untuk kebutuhan air bersih, Dompet Dhuafa menyalurkan air menggunakan tangki ke wilayah pengungsian. Sementara dalam bidang pendidikan, terdapat program Beasiswa Santri Tahfizh bagi anak-anak Palestina serta persiapan konsep “Kampung Indonesia” atau Indonesia Zone sebagai bagian dari rencana pemulihan jangka panjang.
Melalui perjalanan keliling Jakarta tersebut, isu Palestina tidak hanya dibicarakan sebagai persoalan geopolitik, tetapi juga dikaitkan dengan pengalaman Indonesia dalam menghadapi kolonialisme dan memperjuangkan kemerdekaan. Kegiatan “SolidaRIDEty Kita Palestina” menjadi ajakan untuk terus merawat ingatan sekaligus mengambil peran dalam isu kemanusiaan sesuai kapasitas masing-masing.