Satu Abad Rahmi Hatta: Dari Fashion Performance Art “RUMAH” hingga 40 Pasangan Mengikat Cinta

D Stories | Minggu, 6 September 2026 09:00

Reporter : Abidah Ardelia

Memperingati Satu Abad Rahmi Hatta, Yayasan Meutia Hatta Swasono menggelar pementasan seni “RUMAH” dan nikah massal 40 pasangan di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, pada Sabtu (5/9/2026).

Genap satu abad usia Rahmi Hatta menjadi momentum bagi keluarga besar Yayasan Meutia Hatta Swasono untuk tidak sekadar mengenang sosok perempuan yang pernah mendampingi Proklamator Kemerdekaan sekaligus Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta.

Advertisement

Lebih dari sekadar peringatan sejarah, satu abad kelahiran Rahmi Hatta diterjemahkan sebagai upaya meneruskan nilai-nilai keteladanan, kepedulian, kesederhanaan, dan kemanusiaan yang selama ini melekat pada sosoknya.

Pesan tersebut diwujudkan melalui rangkaian kegiatan Satu Abad Rahmi Hatta yang berlangsung sejak Juli hingga September 2026. Sejarah, fashion, seni, diskusi, hingga kegiatan sosial dipadukan untuk menghadirkan sosok Rahmi Hatta dalam perspektif yang lebih dekat dengan masyarakat dan generasi masa kini.

Puncak rangkaian tersebut digelar Sabtu, 5 September 2026, di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, melalui Fashion Performance Art “RUMAH” sekaligus kegiatan sosial bertajuk “Ikatan Cinta” yang mempertemukan 40 pasangan dalam sebuah prosesi pernikahan massal.

Dua kegiatan tersebut menghadirkan pesan yang berbeda, tetapi bertemu pada satu nilai yang sama: keluarga dan kepedulian kepada sesama.

2 dari 4 halaman

“RUMAH”, Membaca Kembali Perjalanan Rahmi Hatta

Fashion Performance Art “RUMAH” menjadi salah satu persembahan utama Yayasan Meutia Hatta Swasono dalam memperingati satu abad kelahiran Rahmi Hatta.

Disutradarai dramawan dan pegiat teater senior Wawan Sofwan, pertunjukan tersebut mengangkat perjalanan hidup Rahmi Hatta melalui perspektif rumah sebagai ruang tempat nilai, kasih sayang, karakter, dan keteladanan tumbuh serta diwariskan.

“RUMAH” memadukan teater, fashion, musik, dan tari untuk menggambarkan perjalanan Rahmi Hatta sejak masa muda, kehidupannya sebagai pendamping Mohammad Hatta, hingga tumbuh menjadi sosok perempuan yang memiliki pengaruh di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Konsep rumah dalam pertunjukan ini tidak semata-mata dimaknai sebagai bangunan fisik. Rumah menjadi simbol tempat seseorang belajar tentang kehidupan, membangun keluarga, menanamkan nilai, sekaligus meneruskan warisan kepada generasi berikutnya.

Unsur fashion menjadi bagian penting dalam pertunjukan tersebut. Koleksi busana pribadi Rahmi Hatta dihadirkan kembali di atas panggung dan diperagakan oleh Top 4 Puteri Indonesia serta Abang None Jakarta Barat.

Busana Rahmi Hatta yang dikenal elegan, sederhana, dan memiliki sentuhan budaya Indonesia menjadi bagian dari perjalanan cerita. Koleksi tersebut tidak hanya dilihat sebagai pakaian, tetapi juga sebagai artefak yang menyimpan potongan sejarah kehidupan seorang perempuan di tengah perjalanan bangsa Indonesia.

Pertunjukan juga menghadirkan monolog yang dibawakan Maudy Koesnaedi dan Prilly Latuconsina.

Sementara dari sisi musik, panggung “RUMAH” dimeriahkan oleh sejumlah musisi lintas generasi, antara lain Iwan Fals, Isyana Sarasvati, Vicky Mono, Aqi Singgih, dan Audrey, serta penampilan tari kreasi lainnya.

Perpaduan tersebut menjadikan “RUMAH” bukan sekadar fashion show, melainkan sebuah pertunjukan seni yang mencoba mempertemukan masa lalu dengan masa kini.

3 dari 4 halaman

“Ikatan Cinta”, 40 Pasangan Mengawali Kehidupan Baru

Sebanyak 40 pasangan mengikuti nikah massal bertajuk “Ikatan Cinta” di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Sabtu (5/9/2026).

Prosesi berlangsung khidmat dan penuh suasana kekeluargaan. Kehadiran kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Yayasan Meutia Hatta Swasono menerjemahkan nilai kepedulian Rahmi Hatta dalam bentuk yang langsung dirasakan masyarakat.

Prosesi turut disaksikan Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Muhammad Syafi’i.

Kehadiran pemerintah dalam kegiatan tersebut sekaligus menegaskan bahwa perkawinan tidak hanya memiliki dimensi agama dan sosial, tetapi juga merupakan peristiwa hukum yang memberikan kepastian terhadap hak dan kewajiban pasangan serta anak-anak yang lahir dari perkawinan.

Ketua Pelaksana kegiatan, Fajrin Saadi, mengatakan nikah massal tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan satu abad Rahmi Hatta sekaligus langkah awal Yayasan Meutia Hatta untuk meneruskan kepedulian sosial yang diwariskan keluarga.

“Ini bukan sekadar perayaan satu abad Rahmi Hatta. Kami ingin menjadikan momentum ini sebagai kesempatan untuk meneruskan nilai kepedulian beliau kepada masyarakat. Salah satunya melalui nikah massal, karena masih banyak masyarakat yang menghadapi kendala sosial dan ekonomi untuk melangsungkan pernikahan secara resmi,” ujar Fajrin.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak berdiri sendiri. Yayasan Meutia Hatta berupaya membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Agama, untuk memperluas manfaat program sosial bagi masyarakat.

Fajrin menuturkan, persoalan administrasi dan status hukum perkawinan masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat. Karena itu, ke depan pihaknya ingin mendorong program yang tidak hanya menyentuh pasangan yang hendak menikah, tetapi juga masyarakat yang membutuhkan pendampingan terkait status hukum perkawinan.

“Kami ingin bekerja sama dengan berbagai pihak agar semakin banyak masyarakat, terutama keluarga yang selama ini menghadapi kendala, memperoleh kepastian dan perlindungan hukum,” katanya.

4 dari 4 halaman

Satu Abad, Sebuah Warisan yang Terus Hidup

Pada akhirnya, rangkaian Satu Abad Rahmi Hatta memperlihatkan bahwa warisan seorang tokoh tidak selalu harus hadir dalam bentuk monumen, arsip, atau benda-benda bersejarah.

Warisan juga dapat hidup melalui tindakan.

Di panggung “RUMAH”, warisan tersebut diterjemahkan melalui busana, musik, tari, monolog, dan teater. Sementara melalui “Ikatan Cinta”, nilai kepedulian diterjemahkan dalam bentuk nyata dengan membantu 34 pasangan memperoleh kesempatan untuk membangun keluarga melalui pernikahan yang sah.

Dua pendekatan tersebut bertemu dalam satu gagasan: rumah sebagai tempat nilai kemanusiaan dimulai.

Bagi 34 pasangan yang hari itu mengucapkan akad, Tennis Indoor Senayan bukan sekadar tempat berlangsungnya sebuah acara. Ruang tersebut menjadi saksi dimulainya perjalanan kehidupan baru.

Sementara bagi keluarga Rahmi Hatta, satu abad kelahiran sang ibu menjadi kesempatan untuk memastikan bahwa keteladanan tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.

Rahmi Hatta dikenang bukan hanya sebagai istri Mohammad Hatta, tetapi sebagai seorang perempuan dengan nilai, pemikiran, kesederhanaan, dan kepedulian yang dapat terus diwariskan.

Satu abad akhirnya bukan sekadar tentang usia.

Ia menjadi tentang apa yang ditinggalkan, apa yang dihidupkan kembali, dan apa yang diteruskan kepada generasi berikutnya.

Dari “RUMAH” hingga “Ikatan Cinta”, pesan itu menemukan bentuknya: bahwa keluarga adalah tempat nilai tumbuh, sementara kepedulian adalah cara nilai tersebut menemukan maknanya di tengah masyarakat.

Dan di sanalah warisan Rahmi Hatta terus hidup.

Terkait
Join Diadona.id