Obat Antibiotik Dianggap Bisa Sembuhkan Batuk dan Pilek, Beneran Gak Sih?

Reporter : Anif Fathul Amin
Selasa, 28 Juni 2022 16:03
Obat Antibiotik Dianggap Bisa Sembuhkan Batuk dan Pilek, Beneran Gak Sih?
Padahal, penggunaan obat antibiotik nggak sembarangan lho!

Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Jenis antibiotik pun bermacam-macam, sehingga dibutuhkan keahlian untuk menyesuaikan jenis antibiotik yang tepat sesuai kondisi dan penyebab penyakit.

Selain itu, beberapa orang juga memiliki reaksi alergi terhadap antibiotik tertentu sehingga menggunakan antibiotik sembarangan justru sangat berisiko.

Namun, antibiotik kerap kali dianggap sebagai "obat segala penyakit". Antibiotik juga dianggap dapat mengobati keluhan batuk dan pilek. Pertanyaannya, apa benar antibiotik bisa mengobati batuk dan pilek? Simak faktanya berikut ini.

1 dari 6 halaman

Anggapan di masyarakat

Ilustrasi AntibiotikIlustrasi Antibiotik © Pexels

Batuk dan pilek merupakan penyakit yang umum terjadi. Biasanya, batuk dan pilek dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan.

Namun, tidak sedikit yang menganggap bahwa obat antibiotik dapat digunakan untuk berbagai jenis penyakit, termasuk batuk dan pilek. Antibiotik dianggap dapat mempercepat penyembuhan keluhan batuk yang sedang dialami. Padahal, anggapan tersebut tidak benar.

2 dari 6 halaman

Bagaimana kebenarannya?

Informasi mengenai antibiotik dapat digunakan untuk mengobati batuk dan pilek adalah disinfomasi. Informasi tersebut dijelaskan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) lewat laman resminya.

Ilustrasi AntibiotikIlustrasi Antibiotik © Pexels

Faktanya, dr. Harry Paraton SpOG(K), Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba, mengatakan bahwa batuk dan pilek tidak perlu menggunakan obat antibiotik, seperti dilansir Kominfo. Untuk mengatasi batuk dan pilek cukup dengan beristirahat, mencukupi kebutuhan air putih, dan mengonsumsi buah serta sayur.

Dijelaskan pula bahwa penggunaan antibiotik berlebihan berisiko menyebabkan resistensi, sehingga berisiko menurunkan pemulihan penyakit yang dialami. Ini karena bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik sehingga penderita tidak dapat diobati dengan berbagai antibiotik. Dokter Harry menyarankan masyarakat agar berkonsultasi terlebih dahulu sebelum menggunakan antibiotik.

3 dari 6 halaman

Penyebab selesma dan influenza

Penyebab selesma paling sering yaitu rhinovirus. Sama halnya dengan selesma, flu juga disebabkan oleh virus. Flu merupakan penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza. Flu dapat menyebabkan keluhan ringan hingga berat.

Virus penyebab selesma maupun flu ditularkan dari orang yang sedang sakit melalui udara dan kontak dengan barang pribadi. Virus dapat menyebar ke orang lain saat orang yang terinfeksi sedang batuk, bersin, atau berbicara.

4 dari 6 halaman

Antibiotik tidak dapat mengobati penyakit yang disebabkan virus

Ilustrasi AntibiotikIlustrasi Antibiotik © Pexels

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menerangkan bahwa antibiotik tidak dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh virus, baik itu virus penyebab selesma maupun influenza. Menggunakan antibiotik pada kondisi tersebut juga tidak dapat mempercepat proses penyembuhan penyakit yang dialami.

Ketika virus penyebab pilek atau selesma menginfeksi saluran pernapasan, maka tubuh akan memproduksi lendir. Produksi lendir tersebut bertujuan untuk menyingkirkan virus yang ada di saluran pernapasan. Setelah 2 sampai 3 hari, lendir yang semula berwarna putih atau bening berubah warna menjadi kekuningan atau kehijauan. Perubahan warna lendir tersebut merupakan hal yang normal. Perubahan lendir menjadi hijau bukan berarti menandakan seseorang membutuhkan antibiotik.

5 dari 6 halaman

Risiko menggunakan antibiotik tanpa indikasi

CDC menjelaskan bahwa antibiotik tidak mempercepat kesembuhan penyakit yang disebabkan oleh virus. Ini karena antibiotik hanya bisa digunakan untuk membunuh bakteri. Menambahkan keterangan WebMD, selesma, batuk, dan sakit tenggorokan pada umumnya disebabkan oleh virus. Antibiotik tidak dapat mengobati penyakit tersebut.

Menggunakan antibiotik tanpa indikasi justru berisiko menyebabkan efek samping yang membahayakan penggunanya. Efek samping yang muncul bisa bermacam-macam, mulai dari yang ringan seperti kemerahan pada kulit hingga masalah yang serius misalnya reaksi alergi parah dan infeksi bakteri resisten obat.

 

Beri Komentar